love you mom
Archive for Februari, 2009
Melirik Profesi DJ
Memang benar, dunia malam sering diidentikkan dengan drugs atau kadang free sex. Tapi, tidak semua orang yang ada di dunia malam itu buruk. DJ David, pria brewok ini mengatakan, walau DJ tidak lepas dari dunia malam, bukan berarti seorang DJ harus larut dalam obat terlarang maupun pergaulan bebas. David mengakui kerap menjauhi segala bentuk obat terlarang dan pergaulan bebas. “Terserah orang mau bilang apa, gua bukan orang yang munafik. Mungkin kalau minum (alkohol) itu iya, tapi bukan berarti gua minum untuk mabuk. Ya gua tahulah takarannya minum itu seperti apa,” ungkapnya. Menekuni sebuah profesi memanglah suatu pilihan untuk menjalani hidup. Bahkan tak jarang sebuah profesi kadang menentukan status sosial dari masing² individu. Salah satu profesi yang cukup menjanjikan adalah DJ. Mungkin gelar atau predikat DJ bisa diperoleh melalui pendidikan yang terkesan formal ataupun otodidak. Tapi, hal ini tentu berbeda dengan beberapa gelar seperti Sarjana, Master, atau bahkan doktor sekalipun. Seseorang bisa meraih predikat DJ atas kepiawaiannya mixing berbagai macam karakter musik. Yang jelas, untuk menjadi seorang DJ biasanya diawali dari rasa cinta individu terhadap musik. Kini banyak DJ yang terbilang sukses setelah menggeluti profesinya. Sebut saja DJ Anton yang memiliki sebuah Bar & Cafe bemama PARC. Selain itu, Anton juga menjadi direktur di sebuah perusahaan ekpor dan impor kini Anton mulai merambah ke dunia bisnis real estate. Awalnya Anton sering tampil di depan umum hanya berdasarkan hobi dan jarang menerima bayaran. la hanya berpikir bagaimana harus berkreasi demi menyenangkan orang lain. Namun, lambat laun Anton mulai melirik DJ sebagai salah satu profesi yang menjanjikan. “Pertama kali”gua pemah dibayar 100 US dolar. Jadi waktu itu setelah gua tampil di sebuah acara, pas pulangnya gua kasih amplop. Gua enggak nyangka kalau bakal dibayar, dan uang itu adalah upah pertama yang gua dapat dari nge-DJ,” katanya. Kini semua jerih payah dan kecintaannya terhadap musik terbayar sudah. Namun Anton menolak memberi tahu berapa besar tarif untuk aksinya dalam satu kali tampil saat ini.”Wah kalau itu enggak enak, mas, tanya saja sama teman² gua,” katanya sembari tersenyum. Sedangkan DJ David kini memiliki record shop yang bernama Demajors. la juga membuka kursus DJ dengan nama yang sama. Merasa belum puas, kini David menekuni profesi baru. David mulai menggeluti bisnis manajemen artis. Bahkan, ia berencana membuat sebuah record label bagi band dan artis. “Yang penting enggak lepas dari dunia “entertainment” kata David. Awalnya, tahun 1989 David hanya dibayar sekitar Rp. 750 ribu per bulan. Namun di tahun yang sama penghasilan David meroket hingga Rp. 6 juta per bulan. Kini, David mengaku tidak mempunyai patokan harga tertentu untuk aksinya. “Soalnya sekarang” gua sudah jarang nge-DJ, susah bagi waktunya. Tapi paling kalau ada event tertentu atau nge-bantu teman. Itu (tarif) pun tergantung nego,” ungkapnya. Berbeda dengan DJ Ijoel yang kini memiliki sekolah DJ sendiri. Sekolah itu diberi nama Ijoel DJ School. Sekolah itu ia rintis atas kecintaannya dengan profesi DJ. Ijoel ingin membuktikan dirinya untuk eksis di bisnis hiburan. Akhirnya ia mendirikan Ijoel Production sebagai tanda cintanya di dunia hiburan. DJ mulai berkembang di Indonesia, khususnya Jakarta, sekitar pertengahan tahun 1990 an. Saat itu orang mulai jenuh dengan sajian live music atau lagu² hits yang biasa disajikan di klub malam. Akhirnya sebuah terobosan mulai terlihat dengan dikenalnya house music. Klub² malam pun menyambut baik house music yang saat itu dianggap mewakili gemerlapnya klub. Saat itulah profesi DJ mulai dilirik dan mulai booming. Gemerlap malam memang menyimpan kisah tersendiri. Apalagi kehidupan di kota besar yang tersebar di Indonesia. Pengaruh budaya barat begitu kental mewarnai roda kehidupan. Alhasil, laju kehidupan di kota besar seakan tak pernah mati. Indikasi ini terlihat dari menjamurnya nite club dan cafe yang rata-rata beroperasi hingga dini hari. Tempat hiburan malam ini tak lepas dari aksi para DJ yang selalu memberikan atmosfir tersendiri. Dengan keahlian “menyulap” lagu di Turn Table, DJ kerap kali mampu membawa pengunjung untuk larut dalam alunan musik kreasinya. Warna dan karakter musik sang DJ memang variatif. Keberadaan DJ dalam bisnis hiburan bisa dikatakan hal yang primer. Sama halnya dengan artis atau band, DJ memiliki penggemar tersendiri di dunia hiburan malam. Seorang DJ harus mampu memandu ratusan atau bahkan ribuan pengunjung. Bahkan, ini merupakan tantangan bagi seorang DJ. Belum lagi gemerlap laser yang dipadukan dengan dentuman house music seakan memacu adrenalin. Menurut Anton, DJ mempunyai andil besar dalam menentukan suasana. DJ harus jeli membaca karakter pengunjung yang datang. DJ harus peka dan selalu berimprovisasi di tiap aksinya. “Itu karena kita enggak tahu lagu seperti apa yang harus kita mainkan. Yang jelas kalau penonton masih kelihatan kaku, ya kita harus cari lagu lain supaya suasananya lebih hangat lagi,” jelas Anton. Biasanya, seorang DJ selalu mengawali dengan musikyang sedikit mellow. Namun, sekitar setengah jam berikutnya pemandangan pun berubah. Seluruh pengunjung terlihat begitu reaksionis. Mereka seakan mempunyai motor dalam tubuhnya. Sang DJ berusaha memompa motor itu untuk melaju kencang. Alhasil tidak sedikit dari sebagian pengunjung yang memerlukan tenaga ekstra. Biasanya, obat tedarang dan psikotropika adalah piliharinya. |
DJ. ANGEL BIANCA
Let’s get the party started,
my music are electro, techno dan house.
check out my profile on www.friendster.com/ angelbianca
or management website on http:/ / advisers.tripod.com/
E-mail : adviser7777777@hotmail.com
or simply call management on (021) 92713368
jalanan memang
Pola kehidupan masyarakat Kota Banjarmasin dewasa ini agaknya tidak dapat dilepaskan dengan pola kehidupan anak jalanan. Artinya kehidupan anak jalanan sudah menjadi bagian dari keseluruhan kehidupan masyarakat Kota Banjarmasin. Kultur masyarakat secara keseluruhan merupakan perilaku mapan yang didasarkan pada rasa, cipta, dan karsa masyarakat dalam menyikapi kehidupan itu sendiri. Di dalam kultur ada bagian-bagian yang disebut subkultur.
Sub-kultur dari sebuah kehidupan masyarakat dapat hadir kapan dan di mana saja. Walaupun demikian subkultur itu bukanlah satu gejala yang lahir begitu saja, tetapi berkaitan erat dengan berbagai peristiwa lain yang menjadi konteksnya. Bila diperhatikan secara seksama, maka kehidupan anak jalanan di Kota Banjarmasin merupakan subkultur masyarakat Banjarmasin itu sendiri, karena kehidupan anak jalanan tersebut sudah menjadi bagian dari kultur masyarakat Kota Banjarmasin. Sebagai sebuah subkultur, kehidupan anak jalanan ini bukanlah sebuah hal yang kebetulan, tetapi memiliki cerita yang panjang dari sisi budaya, sosial, politik, bahkan reliji.
Anak jalanan pada umumnya adalah kaum muda yang sebenarnya adalah aset negara yang berharga. Sebagai modal kekuatan bangsa kaum muda ini harus disiapkan sedini mungkin dan ini menjadi tugas orang dewasa. Penyiapan-penyiapan yang terpenting adalah usaha agar mereka bisa melalui masa transisinya menuju dewasa. Di sinilah terlihat adanya perbedaan yang jelas antara penyiapan masa muda dengan masa dewasa. Pada hakikatnya masyarakat telah menempatkan anak-anak sepenuhnya di bawah kontrol orang tua. Para orang tuapun memiliki kekhawatiran jika masa transisi anak-anak mereka menjadi masa yang kritis sehingga berakibat kurang baik. Kekhawatiran itulah yang kini tidak hanya sebagai sebuah ketakutan tetapi sudah menjadi bukti dalam kehidupan masyarakat ketika ini dan di antaranya adalah kehidupan anak jalanan.

Remaja di Sarang Narkoba


Narkoba udah jadi musuh bersama penduduk dunia. Eit, tapi jangan salah. Narkoba yang satu inai pastinya bukan Nasi Rames Kopi Bandrek lho. Tapi narkotika dan obat berbahaya yang punya nama beken ‘chimenk (ganja)’, ‘pete (putauw)’, ‘xtc (extasy)’ atau ‘bo’at (obat)’. Genderang perang terhadap narkoba ditabuh bertalu-talu di tiap negara. Seperti di Thailand, Singapura, atau Malaysia. Kalo ada yang ketangkep basah bawa narkoba, kudu siap-siap bikin surat wasiat tuh sebelum dieksekusi hukuman mati. Gimana dengan negeri kita?
Nah kalo di negeri kita kayanya masih adem ayem aja tuh. Gembar-gembor hukuman mati bagi bandar narkoba juga masih setengah-setengah. Bayangin aja, dari tahun 2000 sampai kini ada 72 terpidana mati dalam kasus Narkoba. Tapi dari jumlah tersebut baru 5 terpidana yang sukses dieksekusi. Lemahnya penegakkan hukum bikin nyali para bandar narkoba nggak ciut. Sialnya, mereka malah berani buka cabang pabrik narkoba di Indonesia. Waduh, miris ya ngedengernya. Di negara laen narkoba diperangi setengah mati. Eh, negara kita malah jadi tempat investasi. Waduh!
Lahan Subur Peredaran Narkoba
Awalnya, negara kita cuman jadi tempat transit peredaran narkoba di Asia. Tapi kini, kedudukannya udah naik pangkat jadi pasar narkoba tingkat dunia. Malah lebih parah lagi, udah jadi produsen narkoba dalam jumlah besar. Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Gories Mere bilang, sepanjang tahun 2006 akhir 2008, setidaknya polisi menggerebek 5 pabrik sabu skala besar di Indonesia. Diantaranya empat pabrik shabu-shabu di Batam dengan omzet Rp. 464 miliar yang terungkap Oktober 2007 silam. Bahkan 21 november kemaren, polisi juga berhasil membongkar pabrik shabu di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, yang bisa bikin serbuk setan itu 10-20 Kg per hari. Gile bener!
Nggak usah heran, soalnya dengan peralatan yang serba canggih dan mutakhir, sebuah home industry aja bisa bikin puluhan kilo shabu-shabu dalam sehari. Makanya wajar kalo masyarakat banyak yang nggak nyadar kehadiran pabrik narkoba di komplek perumahannya. Dari luar keliatannya kaya rumah biasa. Padahal di dalemnya berton-ton produk narkoba siap dipasarkan.
Teori ekonomi bilang, nggak akan ada barang kalo nggak ada permintaan. Dan ternyata, menjamurnya pabrik narkoba di Indonesia sebanding dengan jumlah permintaan pasar. Yaps, jumlah pengguna narkoba di Indonesia sekarang ini diperkirakan mencapai lebih dari 3,2 juta orang yang terdiri atas 69% kelompok teratur pakai, dan 31% lainnya merupakan kelompok pecandu. Kelompok teratur pakai terdiri atas pengguna ganja sebesar 71%, shabu 50%, ekstasi 42%, dan obat penenang 22%, sedangkan kelompok pecandu terdiri atas pengguna ganja 75%, heroin/putaw 62%, shabu 57%, ekstasi 34%, dan obat penenang 25%. (Kapanlagi.com, 28/03/06)
Dengan jumlah konsumen narkoba sebesar 1,5 % dari total penduduk Indonesia, otomatis bisnis barang haram ini cukup menjanjikan. Menurut BNN, pengguna narkoba di Jakarta aja 1,5 juta orang dengan nilai transaksi perhari Rp 7 miliar. Di Indonesia, transaksi narkoba perhari bisa mencapai Rp 19 miliar. (Liputan6 SCTV, 5/6/2007). Ck..ck..ck.. pantas aja banyak bandar narkoba dari luar negeri yang doyan ‘cari nafkah’ di negeri kita yang kian dikenal sebagai surga narkoba.
Remaja Kena Getahnya
Yang bikin prihatin, narkoba kian banyak menyapa remaja. Nggak sekedar say hello apa kabar, para pengedar membidik remaja sebagai pasar utamanya. Mereka getol mencari mangsa di tempat-tempat remaja biasa ngumpul. Mulai dari kantin sekolah, warung pinggir jalan, sampe pub dan diskotik. Triknya juga sederhana. Biar nggak dianggap bahaya, narkoba dikasih label simbol pergaulan modern. Nyicipin narkoba dianggap wajar. Apalagi narkoba menjanjikan kesenangan dan kenikmatan, dua hal yang sering dicari remaja. Jadi sangat beralasan untuk coba-coba pake narkoba. Itu bujuk rayu sang pengedar.
Kalo perlu, pengedar ngasih jatah gratisan sebagai promosi sambil ninggalin jejak biar mudah dihubungi kalo mangsanya ketagihan. Udah mah penasaran, dikasih yang gratisan. Pastinya banyak yang tergoda akhirnya kecanduan. Parahnya, penjualan narkoba kini pake sistem MLM alias Marketing Lewat Mulut eh, Multi Level Marketing. Kalo berhasil menjual lima paket, dapet bonus satu paket. Jadi selain jadi pengguna, banyak remaja yang juga terjun jadi pengedar biar dapet yang gratisan. Gawat!
Terbukti, dari hasil survei Yayasan Citra Anak Bangsa, 70 % siswa SMP dan SMU di 12 kota besar pernah mendapatkan tawaran narkoba dari temannya sendiri. Walhasil, jumlah pelajar pengguna Narkoba di Indonesia, berdasarkan data BNN tahun 2006 tercatat sebanyak 83.000 pelajar. Baik siswa SD, pelajar SMP, maupun SMA. (ismki.com, 27/06/08). Data ini dikuatkan oleh Kepala BNN Komjen Pol I Made Mangku Pastika yang mengatakan, sekitar 20 persen dari 4 juta pengguna narkoba di seluruh Indonesia adalah remaja. (Detik.com, 25/06/06)
Narkoba Bikin Hidup Sengsara
Sekedar ngingetin, dampak buruk narkoba bisa bikin sengsara dunia akherat lho. Di dunia, hidup kita bisa hancur. Di akherat, nasib kita nggak kalah hancurnya. Asli, double tekornya. Beberapa dampak buruk narkoba diantaranya:
Pertama, depresan yaitu menekan sistem sistem syaraf pusat dan mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Pemakai jadi serasa terbang ke langit alias nge-fly. Kayanya tenang, nyaman, dan adem. Malah saking tenangnya bisa tertidur, nggak sadar, dan akhirnya nggak bangun-bangun lagi karena over dosis. Jenis narkoba depresan antara lain morphin, heroin, atau Putaw.
Kedua, stimulan yang bisa merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran. Pemakai jadi melek terus dan nggak ada capenya. Yang termasuk jenis stimulan adalah Kafein, Kokain, Amphetamin. Atau yang cukup populer adalah Shabu-shabu dan Ekstasi.
Ketiga, Halusinogen yang bisa mengubah daya persepsi atau mengakibatkan halusinasi. Pemakai jadi nggak sadar dan sulit ngebedain antara dunia nyata dan dunia khayal. Persis kaya fatamorgana di padang pasir yang gersang. Narkoba halusinogen yang paling banyak dipakai adalah marijuana atau ganja.
Dari ketiga jenis narkoba di atas, semuanya bikin kecanduan. Akibatnya, fisik dan psikologis pemakai jadi error karena terjadi kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh vital seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Secara psikologis, pemakai narkoba akan sulit mengendalikan diri. Kebayang dong kalo orang udah kehilangan self control-nya, perilaku apa aja bakal dijabanin. Kalo udah sakaw, pemakai bakal menghalalkan segala cara untuk dapetin narkoba. Bahkan pemakai narkoba lebih mudah terperosok dalam budaya mesum karena nggak bisa mengendalikan dorongan seksualnya.
Secara fisik, narkoba membuat daya tahan tubuh pemakainya melemah. Saking lemahnya, berbagai penyakit siap bersarang dan awet di tubuhnya. Mulai dari gangguan peredaran darah, gangguan fungsi seksual, hingga resiko tertular penyakit hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya.
Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN), per 30 September 2005 dari 32 provinsi ada sekitar 600 ribu orang Indonesia terjangkit HIV/AIDS. Di Papua, penyebaran HIV melalui narkoba, jumlahnya mencapai 14 ribu atau 30 % dari total kasus. Di Pontianak, 70 % dari total kasus, dimana 3/4 dari mereka adalah pengguna narkoba. Di Bali 53 % dari pengguna narkoba suntik positif HIV. Dan di DKI Jakarta 48 persen pengguna narkoba suntik positif HIV.
Jadi masuk akal dong kalo Dari 3,6 juta pecandu di Indonesia, ada rata-rata 15 ribu orang meninggal akibat narkoba setiap tahunnya (BNN, 2005). Sebagian besar yang meninggal adalah kaum muda di bawah 30 tahun. Karena Pengguna narkoba terbesar ada di kelompok usia 15-24 tahun (BNN, 2004). Dan menurut penelitian Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB, 2002), kelompok usia terbesar anak coba-coba pake narkoba untuk pertama kalinya adalah 12-17 tahun. Kalo kondisi ini terus dicuekin, generasi penerus bangsa bakal habis diembat narkoba. Berabe tuh urusannya!
Berantas Sampai Tuntas
Dalam Islam, narkoba termasuk zat memabukkan yang dalam al-Quran disebut khamr, artinya sesuatu yang dapat menutup akal. Dan Islam udah jelas melarang umatnya nyepet putaw, ngisep chimenk, atau nenggak miras. Allah swt berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-mâidah [5]: 90)
Lantaran udah jelas-jelas haram, perang terhadap narkoba udah lama dikampanyekan Islam. Bukan cuman teori, peperangan ini udah ditunjukkan oleh Rasul dan para shahabat. Dan nggak tanggung-tanggung, Islam memerangi semua yang terlibat dalam peredaran barang haram itu.
Rasulullah saw. mengutuk sepuluh orang karena khamr: pembuatnya, pengedarnya, peminumnya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan hasil penjualannya, pembelinya dan pemesannya. (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).
Dalam hal ini, negara yang paling berperan untuk menghentikan peredaran narkoba. Ketegasan hukum dari negara nggak boleh setengah-setengah. Biar para pelaku bisnis narkoba pada kapok tujuh turunan. Seperti yang ditunjukkan oleh Islam. Bagi peminum khamr atau pengguna narkoba hukumannya empat puluh kali dera di muka umum. Sabda Rasulullah SAW:
“Bahwasanya Rasulullah SAW telah mendera orang yang meminum khamr dengan dua pelepah tamar empat puluh kali. (HR. Muslim).
Sementara orang yang menjual, membeli, meracik, mengedarkan, atau menyimpan narkoba bakal kena sanksi jilid (cambuk) dan nginep di sel selama 5 tahun plus bayar denda yang ditetapkan oleh qadhy (hakim). (Sistem Sanksi dalam Islam, Abdurrahman al-Maliki).
Pren, untuk memberantas narkoba sampe tuntas udah selayaknya negara pake aturan Islam. Selain bikin ngeper para pelaku bisnis narkoba, aturan Islam juga bakal memangkas alasan ekonomi atau tekanan hidup yang sering mendorong orang untuk pake atau jadi pengedar narkoba. Soalnya, kalo negara bener-bener total pake aturan Islam, kesejahteraan hidup rakyatnya bakal jadi prioritas utama.
Wajah Gajah Mada Dulu dan Sekarang
Wajah salah satu sudut di Jalan Gajah Mada Jakarta Pusat pada tahun 1950. Lokasi berdekatan dengan gedung Pelni.
Wajah salah satu sudut Jalan Gajah Mada Jakarta Pusat. Foto diambil pada Oktober 2008.
Buruh, GUDEG dan Puisi
Kini rekan-rekannya menjulukinya sebagai juragan gudeg. Warung gudegnya sering dijadikan tempat berkumpul untuk berkesenian. Lantai atas warungnya itu biasa dijadikan tempat pameran, diskusi sastra, dan pementasan seni. Penyuka burung dan jenggot ini bilang, ”Sastra jalan kalau ada duit.”
Dulu, ia adalah manajer personalia di sebuah perusahaan swasta. Tapi, sikap kesehariannya kerap tidak seiring dengan pemilik perusahaan. Ia dinilai lebih cenderung membela kepentingan pekerja dibanding perusahaan. Apa boleh buat, sikap itu berbuntut dikeluarkannya surat pemutusan hubungan kerja (PHK).
Peristiwa di akhir 1990-an tersebut membawa jalan hidup Wowok Hesti Prabowo, manajer personalia itu, berbalik. Pria kelahiran Purwodadi-Grobogan, 16 April 1963, ini kembali ke habibatnya: Menjadi seniman. Dari pesangon yang diterimanya, ia menerbitkan antologi puisi, memuat karya-karya sastrawan se-Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi). ”Itu nazar saya,” ucapnya.
Bekerja sebagai buruh pabrik dan terus menulis adalah dua hal yang selalu menyatu dalam diri Wowok selama tak kurang dari 15 tahun masa kerjanya di berbagai perusahaan. Setamat dari STMA (Kimia) Yogyakarta, 1983, ia memang langsung bekerja sebagai buruh pabrik. Tapi, kegemarannya menulis puisi dan artikel semasa masih bersekolah tak serta-merta terhenti.
Ia, agaknya, tak ingin berjalan sendiri. Wowok mengenalkan dunia kesenian kepada sesama buruh. Para pekerja itu dituntun menulis puisi, mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka melalui tulisan. Melalui serikat pekerja, ia membentuk komunitas dan mengajari para buruh menulis sastra. Sastra buruh kemudian menggelinding, menjadi pembicaraan kalangan pemerhati sastra.
Maka, sastra buruh kerap diidentikkan dengan pergerakan. Bagi buruh, tulis Wowok dalam pengantar sebuah bukunya, puisi adalah mulut. ”Ketika hak-hak buruh ditebas, kebebasan buruh dibelenggu, kehidupannya ditindas dengan berbagai intimidasi dan kesewenangan, maka untuk menggerakkan isi hatinya buruh butuh mulut. Dan, mulut itu adalah puisi. Jadi, puisi bagi buruh adalah media untuk berjuang.”
Wowok tidak sekadar berpuisi dan mengenalkan seni dan sastra kepada para buruh. Ia ikut turun ke jalan, memperjuangkan nasib buruh. Bertepatan 50 tahun Indonesia Merdeka, 1995, mantan ketua unit kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT Berlina, Tangerang, ini melakukan aksi protes terhadap kesewenangan yang menimpa kaum buruh. ”Saya mogok bicara selama 50 hari,” ujar pendiri Komunitas Budaya Buruh Tangerang (Bubutan) itu.
Jual sambal
Berhenti dari pekerjaan sebagai buruh pabrik, tidak berarti berhenti berkarya. Justru sebaliknya, produktivitasnya meningkat, aktivitas kian tinggi. Kumpulan puisinya terbit dalam sejumlah buku. Sebutlah, misalnya, Buruh Gugat (1999), Presiden dari Negeri Pabrik (1999), dan Lahirnya Revolusi (2000). Puisi-puisinya juga tersebar dalam sejumlah antalogi, seperti Hijrah, Bangkit, Rumah Petak, Trotoar, Cisadane, Mimbar Penyair Abad 21, dan Renonansi Indonesia yang diterbitkan dalam dua bahasa: Indonesia dan Mandarin.
Lulusan Fakultas Teknik Kimia Tekstil UNIS Tangerang, 1996, ini juga pernah mengetuai Yayasan Komunitas Sastra Indonesia (KSI), penggelinding komunitas Roda-roda Budaya, dan penggagas Institut Puisi Tangerang (IPT). Roda-roda Budaya adalah komunitas gabungan buruh dan sastrawan. Sedangkan IPT adalah lembaga untuk mengantarkan buruh agar tidak minder di tengah pergaulan sastra. ”Kalau dulu sastra itu elite, kini sastra milik siapa saja,” ujar ayah tiga anak ini.
Wowok, memang tidak semata berkesenian. Saat di-PHK, sebagian pesangonnya ia gunakan mendirikan rumah makan. Pernah mensuplai makanan rantang ke 13 perusahaan, Wowok merasakan penghasilannya jauh melampaui gaji sebagai buruh. Gaji setahun bisa setara dengan penghasilan sebulan dari hasil usaha. ”Itu saya rasakan. Saya menyesal 15 tahun bekerja di pabrik, tapi mungkin Allah menunjukkan jalan ke sana,” ucap anak keempat dari enam bersaudara ini.
Wowok suka menyebut usahanya itu sebagai jualan sambal. Menempati ruko dua lantai, dua rumah makan Galery Gudeg Yogya miliknya di bilangan Tangerang itu sering disambangi para seniman untuk melakukan kegiatan seni.
Belakangan ini, bersama rekan-rekannya, Wowok mencetuskan pamflet sastra Bumi Putra, sekaligus menjadi pemimpin redaksinya. Bersama rekan-rekannya, baik melalui pamflet sastra itu maupun lewat aksi nyata, ia menggugat bentuk dominasi komunitas sastra yang satu atas komunitas sastra yang lain.
Lewat Sastrawan Ode Kampung, ia menjadi penandatangan pertama penolakan terhadap bentuk dominasi komunitas sastra yang satu atas komunitas sastra yang lain itu. Sastrawan Ode Kampung juga menolak eksploitasi seks dalam karya sastra. Ia juga menggugat dominasi kapital asing atas kegiatan sastra di Tanah Air, ”yang memperalat keindonesiaan kita”.
Dunia seni, bagi Wowok, menjadi bagian yang sulit dipisahkan dalam kehidupannya. Tanpa itu, dia merasakan hidup yang hambar. Wowok mengaku menemukan kepuasaan batin bergelut dengan dunia seni. Dengan berkesenian, menurut Wowok, dia bisa merasakan nikmatnya gudeg, eh hidup.
si pelukis lilin
Segalanya bermula dari jongkok dan mendongak di WC kamar kos. Sebelas tahun silam, Veri Apriyanto (33 tahun) tak pernah menduga bahwa aktivitas rutin itulah yang kelak mengantarkannya menjadi Veri saat ini. Seorang pelukis lilin (/candle painter/) ternama, jika tidak satu-satunya di negeri ini.
Orang menjulukinya Veri ‘Candle’. Tapi kemudian nama itu kerap dipelesetkan menjadi ‘Very Candle’ (baca : sangat lilin). Toh, pelesetan itu tak benar-benar keliru. Di kediamannya di Gang H Koweng, Jl Legoso, Ciputat, Jaksel, Veri tinggal dalam impitan ‘dinding lilin’. Ya, dinding rumahnya dijejali lebih dari 30 lukisan berbahan lilin.
Ada lukisan kupu-kupu, lukisan Candi Borobudur, Candi Prambanan, lukisan penari bali, bunga-bungaan, gunung es, kawanan burung, waktu senja, wajah Soeharto dan duit lima puluh ribu, atau lukisan daging ayam segar. Lukisan-lukisan ini kebanyakan bertekstur menonjol. Ada pula lukisan yang dikombinasikan dengan replika tiga dimensi seperti lukisan daging ayam segar. Yang jelas, lukisan-lukisan lilin ini takkan mencair asalkan tidak diterpa suhu di atas 60 derajat Celcius.
Kendati sempat vakum beberapa lama dan kembali sibuk berlilin ria pada 2003, sudah ada 70 lukisan lilin tercipta dari tangan dinginnya sejak saat itu. Separuhnya ia jual, separuhnya ia koleksi. Sebelum vakum, beberapa kali Veri menggelar pameran tunggal lukisan lilin sejak 1998 antara lain di Pusat Kebudayaan Jepang, Hotel Hilton, Jakarta, dan wanawisata Tanah Tingal, Tangerang. Ia juga pernah diundang ke luar negeri yakni ke Yunani, Prancis, AS, atau Australia. Namun, rencana itu ia urungkan lantaran panitia tak menanggung akomodasi.
Yang jelas,”Ketika kembali dari Bali ke Bandung pada 2001 saya sempat bingung bagaimana mencari makan. Kemudian saya kembali menekuni lukisan lilin pada 2003. Dan, kini saya bisa makan,” kata bujang asal Kuningan, Jabar, itu saat ditemui Republika Senin (22/
lalu. Wajar saja. Satu lukisan lilin Veri ukuran sedang (80×60 cm) bisa laku Rp 3,4 juta sampai Rp 4 juta, sementara ukuran besar (80×120 cm) bisa Rp 7 juta - Rp 10 juta (ukuran 80×120 cm). Veri malah pernah menjual sembilan lukisan lilin bergambar wayang seharga masing-masing Rp 12 juta. Kini, Veri menyimpan mimpinya. ”Saya ingin membangun museum lilin Indonesia,” kata dia.
Museum lilin Madame Tussaud menjadi inspirasi terbesar Veri. Museum yang terdapat di Eropa, Amerika Serikat, dan Hong Kong (Asia) itu menyimpan ratusan patung lilin para tokoh-tokoh dunia. Nah, andai museum lilin Indonesia terwujud, maka yang bakal dipamerkan di situ adalah tokoh-tokoh asal Indonesia saja.
Yang tak kalah unik, museum lilin Indonesia rencananya juga bakal mereplika makanan-makanan khas Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Sebut saja pempek palembang, gudeg yogya, sate madura, tahu gejrot cirebon, atau pecel bandung. Semuanya bakal diduplikasi dalam bentuk lilin.
Museum lilin itu rencananya merupakan bagian dari wisata lilin Indonesia yang diimpi-impikan Veri. ”Kelak wisata unik juga bakal menyuguhkan sekolah lilin, candle art-shop, dan galeri. Para pengunjung juga bisa menyaksikan proses pembuatan lukisan dan replika lilin dari A sampai Z sebab lokasi work-shop dibangun dengan konsep open production,” ujar Veri. Semoga.
Cara Alami Memberantas Cacing
MENGATASI parasit adalah usaha yang perlu terus-menerus dilakukan karena siapa pun bisa terkena lebih dari sekali. Itu sebabnya sejak kecil dianjurkan minum obat cacing secara teratur. Namun begitu, sebenarnya yang penting adalah menjalani pola hidup sehat untuk menghindari cacingan.
Selain obat-obatan modern, keluarga Indonesia sebenarnya juga perlu mengenal obat cacing alami yang beberapa di antaranya sudah menjadi menu makanan sehari-hari. Bahan alami lebih aman digunakan dalam jangka panjang. Bahan alami yang bisa digunakan untuk mencegah infeksi cacing adalah:
Biji pepaya
Mengunyah satu sendok teh biji pepaya mentah dalam kondisi perut masih kosong setiap hari dapat dipergunakan dalam keadaan basah maupun kering. Jika rasa pahitnya terlalu kuat, bisa dicampur dengan kurma atau madu. Atau bisa saja biji pepaya ini seblender dan dicampur dengan sedikit air, baru diminum. Sebagai program antiparasit, makanlah biji pepaya ini setiap hari selama seminggu, selanjutnya bisa diulang dua minggu kemudian.
Biji labu kuning
Sebagai antiparasit, biji labu kuning relatif aman untuk anak-anak dan wanita hamil. Makanlah segenggam biji labu kuning mentah dua kali sehari dalam kondisi perut kosong. Untuk program anticacing pita, lakukan selama seminggu berturut-turut, lalu lanjutkan dua minggu kemudian. Jika dicampur dengan bawang putih, biji labu kuning juga membantu memberantas cacing kremi.
Sayuran dan herba pahit
Jika kurang menyukai sayuran dan herba yang rasanya pahit, begitu pula cacing. Dengan sering mengonsumsi sayuran dan sayuran dan herba yang pahit, berarti tidak memberi kesempatan cacing untuk menggemukkan tubuh dan berkembang biak dengan leluasa.
Mentimun
Mengonsumsi mentimun setiap hari mampu membantu membasmi cacing di dalam tubuh. Sebagai antiparasit, ketimun telah diketahui bisa membunuh cacing pita.
Suplemen
Beberapa suplemen seperti magnesium, vitamin B12, dan kalsium dapat meningkatkan kekuatan tubuh dalam melawan parasit.
Bawang putih
Mengonsumsi bawang putih setiap hari membantu mengatasi berbagai parasit. Selain juga dapat membantu membasmi jamur, bakteri, dan virus. Bawang putih juga bisa dikonsumsi dalam bentuk jus.







